Breaking News

Selamat Hari Keuangan Nasional 30 Oktober


Sebelumnya pada tanggal 28 oktober merupakan hari sumpah pemuda. Sekarang tanggal 30 Oktober menjadi salah satu hari yang spesial untuk Indonesia? Sobat gaul ada yang tau mengapa demikian? Mungkin banyak yang tidak mengetahui bahwa setiap tanggal 30 Oktober diperingati sebagai Hari Keuangan Nasional. Sebab peringatan ini hanya dirayakan oleh instansi-instansi tertentu saja, misalnya Kementerian Keuangan dan Direktorat Jenderal Pajak, serta para jajaran pejabat negara lainnya. Hari Keuangan Nasional ini perlu diperingati untuk mengingatkan kita sejenak agar lebih bijak dalam memperlakukan uang. Karena kita pun tau penggunaan uang sebagai alat tukar menukar barang tentu membuat uang tersebut berpindah-pindah dari satu tangan ke tangan lainnya. Dari situ jelas kita harus menjaga dengan baik kondisi fisik uang tersebut agar tidak cepat aus.

Selamat Hari Keuangan Nasional

Setiap negara tentu memiliki mata uang sendiri, meskipun ada beberapa negara yang sepakat menggunakan satu mata uang. Misalnya, mata uang Euro digunakan oleh negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa. Sedangkan Dollar digunakan Amerika Serikat sebagai  mata uang negaranya. Demikian pula dengan negara Singapura yang menggunakan Dolar sebagai mata uangnya, namun serupa nama saja lho ya tapi tak sama. Sama halnya dengan negara-negara lain tersebut, Indonesia juga memiliki mata uang sendiri yaitu Rupiah, yang kehadirannya sudah akrab di tengah-tengah kita. Mulai dari pecahan Rp1.000 bergambar pahlawan Pattimura hingga pecahan Rp100.000 bergambar Sukarno-Hatta. Namun, sobat-sobat pada tau ndak, kalo  kemunculan Rupiah ini bukan sekadar sebagai alat tukar semata? Ternyata lahirnya Rupiah ini tidak lepas dari eksistensi Indonesia dan melalui perjalanan yang amat pelik, yuk simak historinya berikut :

Setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaanya oleh Bung Karno dan Bung Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945 silam, Indonesia saat itu belum memiliki mata uang sendiri. Sehingga di seluruh wilayah Indonesia masih beredar mata uang peninggalan Belanda, uang Jepang dan mata uang De Javasche Bank. Yang turut membuat geram juga adalah, meskipun kemerdekaan telah diproklamirkan masih saja para tentara sekutu yang tergabung dalam Netherlands Indies Civil Administration (NICA) kembali menyerang negara Indonesia pada tanggal 29 September 1945. Bahkan mereka menerbitkan uang NICA yang memicu inflasi serta mengakibatkan kekacauan ekonomi di Indonesia.

Menyikapi hal hari keuangan nasional tersebut, Pemerintah akhirnya mengambil langkah strategis demi mengurangi pengaruh NICA di Tanah Air. Pada tanggal 2 Oktober 1945, pemerintah mengeluarkan Maklumat Pemerintah Republik Indonesia yang menetapkan bahwa uang NICA tidak berlaku di wilayah RI. Pemerintah juga terus mengebut produksi mata uang sendiri yang dinamakan Oeang Republik Indonesia (ORI). Mantabs ya..

Langkah bersejarah pemerintah mengeluarkan Oeang Republik Indonesia dilakukan saat kondisi politik dan ekonomi yang tidak stabil. Saat itu, Ibu Kota RI tengah dipindah ke Yogyakarta karena Jakarta yang tidak kondusif lagi. Pada saat itu Jakarta tengah dikendalikan tentara asing dibawah kepemimpinan NICA. Nah dikeluarkannya ORI ini diharapkan dapat mengurangi tekanan politik NICA.

Kemudian penduduk Indonesia mendapat pengumuman tentang Oeang Republik Indonesia atau ORI dari pidato Wakil Presiden Mohammad Hatta yang disiarkan melalui RRI Yogyakarta pada tanggal 29 Oktober 1946. Pidato tersebut berlangsung pada pukul 20.00, menegaskan bahwa ORI mulai berlaku pukul 00.00 tengah malam, beberapa jam setelah pidato wakil presiden pertama ini. Uang Jepang dan uang De Javasche Bank yang saat itu juga beredar sebagai uang yang sah dinyatakan tidak berlaku lagi.

Saat itu hari keuangan nasional Indonesia, ORI emisi 1 terbit dalam delapan seri uang kertas yaitu satu sen, lima sen, sepuluh sen, setengah rupiah, satu rupiah, lima rupiah, sepuluh rupiah, dan seratus rupiah. ORI ini juga mempunyai sisi depan dan belakang yang bergambar ciri khas Indonesia, yaitu keris yang terhunus dan teks Undang-Undang Dasar 1945. Pada tiap lembar yang beredar, ORI ditandatangani oleh Menteri Keuangan yang menjabat dalam kurun waktu 26 September 1945 – 14 November 1945, yaitu A. A. Maramis.

Proses peredaran ORI ke seluruh pelosok negeri bukan lancar begitu saja, faktor perhubungan dan masalah keamanan menjadi penyebab utama sulitnya pendistribusian mata uang ini ke masyarakat. Apalagi, sebagian wilayah Indonesia masih berada di bawah kedudukan Belanda. Kedua hal inilah yang  menyebabkan pemerintah Indonesia kesulitan untuk menyatukan Indonesia sebagai satu kesatuan moneter. Bahkan, mulai tahun 1947 pemerintah terpaksa memberikan otoritas kepada daerah-daerah tertentu untuk mengeluarkan uangnya sendiri yang disebut Oeang Republik Indonesia Daerah (ORIDA). Namun mulai tanggal 27 Maret 1950 telah dilakukan penukaran ORI dan ORIDA dengan uang baru yang diterbitkan dan diedarkan oleh De Javasche Bank yaitu Uang Republik Indonesia Serikat (RIS), sejalan dengan bentuk negara Indonesia menjadi Konstitusi RIS. Sayangnya Pemerintah RIS hanya berlangsung singkat, sehingga masa edar uang kertas RIS juga tidak lama, yaitu hingga tanggal 17 Agustus 1950 ketika Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) terbentuk kembali.

Pada Desember 1951, De Javasche Bank dinasionalisasi menjadi Bank Indonesia yang didaulat sebagai bank sentral. Di waktu yang sama, Bank Indonesia merilis uang rupiah yang berlaku sebagai alat pembayaran. Terdapat dua macam uang rupiah yang berlaku sebagai alat pembayaran yang sah di wilayah Republik Indonesia, yaitu uang yang diterbitkan oleh Pemerintah Republik Indonesia (dalam hal ini Kementerian Keuangan) dan yang diterbitkan oleh Bank Indonesia. Pemerintah RI menerbitkan uang kertas dan logam pecahan di bawah Rp 5, sedangkan Bank Indonesia menerbitkan uang kertas dalam pecahan Rp 5 ke atas. Pada masa Orde Baru, Bank Indonesia baru diberi wewenang untuk mencetak dan menerbitkan uang, baik dalam bentuk koin ataupun kertas, serta mengatur peredarannya. Woww panjang kan histori mata uang kita, maka dari itu tentu kita harus menjaga eksistensinya.

Cara Memperlakukan Uang yang Benar

Nah berikut ini cara yang dapat kita lakukan untuk memperlakukan uang secara bijak :
  1. Jangan Dilipat
Kebiasaan masyarakat yang seringkali dilakukan, mungkin karena kurangnya edukasi pada masyarakat, akhirnya kebiasaan tersebut dianggap boleh-boleh saja.
  1. Jangan Diremas
Perilaku yang seringkali dilakukan secara sengaja atau tidak sengaja agar uang lebih mudah masuk saku celana atau baju. Selain bikin cepat lusuh, uang pun jadi lecek, rusak, kucel, dan bau.
  1. Jangan Distapler
Biasanya cara ini sering dilakukan untuk memudahkan menghitung uang. Misalnya setiap sepuluh lembar uang Rp100.000, langsung distepler agar memudahkan dan tidak perlu menghitung lagi ketika dibutuhkan, padahal uang bisa berlubang karena kebiasaan ini.
  1. Jangan Dicoret
Kebiasaan ini seringkali kita temukan di lembar uang kertas, mencoret-coret uang seenaknya dengan kalimat yang tidak penting misalnya nomor ponsel, nama, rangkaian puisi, dan masih banyak lagi lainnya.

Kita memang bisa menukarkan uang dalam kondisi rusak di BI, namun perlu kita ketahui nih sob, langkah kecil yang kita lakukan seperti tips diatas, dapat mengurangi jumlah uang tidak layak edar di tengah masyarakat. Sebab uang tersebut nantinya akan dimusnahkan bank sentral setiap tahun. FYI aja nih sob, dari catatan BI uang yang tidal layak edar (UTLE) sepanjang tahun 2017 dimusnahkan sebanyak 7,7 miliar bilyet atau senilai Rp 254,1 triliun. Tuh ironis sekali kan, padahal penduduk Indonesia saja masih banyak yang berada dalam belenggu kemiskinan.

So, yuk mulai langkah kecil kita untuk ikut menjaga mata uang rupiah kita semua. Semoga artikel dari bloGaul tentang Hari Keuangan Nasional pada tanggal 30 oktober ini bermaanfaat. Jangan lupa share ke teman-teman lainnya juga ya :)

No comments