Breaking News

Tradisi Nyadran Warisan Luhur Sidoarjo



Pernah denger gak tradisi nyadran yang dilakukan di Desa Balongdowo dan Bluru Kidul Sidoarjo? Warga desa setempat sampai sekarang pun tetap berusaha menjaga warisan budaya luhur daerahnya, hal ini dilakukan untuk melindungi khazanah seni yang dimiliki Sidoarjo. Wah bisa jadi potensi wisatayang menarik wisatawan lokal ataupun mancanegara lhoo, jika terus dikembangkan menjadi lebih apik dan menarik.

Tradisi nyadran Sidoarjo menurut bahasa jawa sendiri, pada awalnya berupa kenduri yang dilakukan di Makam Dewi Sekardadu. FYI nih guys, dilansir dari laman Wikipedia, Dewi Sekardadu adalah Putri Kerajaan Blambangan, penguasa Kerajaan Majapahit. Dewi Sekardadu kemudian menikah dengan Maulana Ishaq seorang mubaligh Islam dari Asia Tengah, dan Raden Paku (Sunan Giri) merupakan buah pernikahan dari Maulana Ishaq. Menurut cerita sejarah, kelahirannya Raden Paku dianggap telah membawa kutukan berupa wabah penyakit di wilayah tersebut. Maka Dewi Sekardadu dipaksa ayahandanya (Prabu Menak Sembuyu) untuk membuang anak yang baru dilahirkannya itu. Lalu, Dewi Sekardadu dengan rela menghanyutkan anaknya itu ke laut sekarang ini.

Ada juga versi lain yang menceritakan bahwa Raja Blambangan kurang setuju dengan pernikahan Maulana Ishaq dengan Dewi Sekardadu, akhirnya Raja Blambangan murka. Ia membuang Raden Paku ke laut. Kemudian Dewi Sekardadu pun mengejar anaknya. Namun, Dewi Sekardadu meninggal dan terbawa arus ke Sidoarjo. Jenazahnya ditemukan di selat Madura (saat ini menjadi tempat nelayan Balongdowo mencari Kupang). Dewi Sekardadu pun pada akhirnya di Makamkan di Ketingan atau Kepetingan yang pada setiap bulan sya’ban atau ruwah digelar upacara nyadran dsn ketingan disana.


Bentuk Rasa Syukur Masyarakat



Tujuan Tradisi Nyadran merupakan bentuk rasa syukur masyarakat Desa Balongdowo ataupun Bluru Kidul atas sumber daya yang mereka peroleh dari hasil laut. Saat ini nyadran sidoarjo makin semarak berkat inisiatif parapemuda-pemudi untuk mengemas tradisi nyadran menjadi lebih spektakuler lagi, diantaranya seperti menambahkan aksen hiasan pada perahu sebagai arak-arakan, terkadang pula dengan diiringi alunan musik sound system tidak ada hentinya berjoget menikmati alunan musik. Lalu bagaimana ya, korelasi tradisi budaya ini dengan Islam sebagai agama yang dianut oleh mayoritas masyarakat Sidoarjo??

Tradisi Nyadran menurut Islam dan budaya memiliki relasi yang tak terpisahkan, dalam Islam sendiri ada nilai universal dan absolut sepanjang zaman. Namun demikian, Islam sebagai dogma tidak kaku dalam menghadapi zaman dan perubahannya. Islam selalu memunculkan dirinya dalam bentuk yang luwes, ketika menghadapi masyarakat yang dijumpainya dengan beraneka ragam budaya, adat kebiasaan atau tradisi. Sebagai sebuah kenyatan sejarah, agama dan kebudayaan dapat saling mempengaruhi karena keduanya terdapat nilai dan simbol.

Untuk informasi selengkapnya kunjungi : gwslurid - Tradisi Nyadran Sidoarjo


No comments