Breaking News

Review Film Gile Lu Ndro!




Gile lu ndro! siapa hayo yang gak kenal sama celetukan yang famous di era 90an ini. Yups celetukan yang sering muncul di layar kaca dalam film komedi warkop DKI yang berjaya pada masanya, ciahh! Seolah ingin mengobati kekangenan kita sama celetukan khas itu, 13 September 2018 lalu film bergenre komedi ini rilis di seluruh bioskop Indonesia kesayangan kita.

Film Gile lundro! ini di sutradarai oleh Herwin Novianto. Dengan penulis naskah Upi Avianto, Aline Widjayakusuma. Arie Kriting sebagai konsultan komedi menjelaskan bahwa film yang satu ini menjadi film tersulit yang pernah ia garap karena menurutnya komedi butuh space sendiri, dialog, akting. Komedi pada dasarnya tidak menjadi satu kesatuan dengan cerita. Oh begitu toh, hehe.

Nah aktor beruntung yang memainkan peran utama adalah Tora Sudiro sebagai Indro dan tentu saja Indro warkop sebagai Pak Al (alien yang membuntuti Indro). Selain kedua aktor tersebut, film ini juga dimeriahkan oleh Mieke Amalia, Yuriko Anggeline, Zulfa, Deswita Maharani, Tarzan, Bedu, dan sederet nama komika Indonesia.

Indro Warkop seperti beraksi di lapak baru dalam menuangkan komedi satire berbalut fantasi.  Humor yang disampaikan dalam film Gila Lu Ndro! terbilang implisit dan butuh referensi dan preferensi yang cukup untuk mencernanya. Sebab, humor yang disajikan terselip pesan kritik dengan histori realitas di era berbeda. Meski humor terbilang berat, kehadiran Aci Resti pada menit pertama sukses memecah suasana. Para komika lain turut memberikan bumbu humor menarik dalam masing-masing porsi bingkai.



Gila Lu Ndro! berkisah tentang sosok alien bernama Pak Al (Indro Warkop) yang mencari kedamaian di muka Bumi. Dalam perjalanannya, Pak Al bertemu dengan Indro (Tora Sudiro) dalam mini bus. Perjalanan Indro menemani Pak Al diceritakan naratif dan lewat peristiwa sehari-hari. Indro dalam adegan film turut menjadi narator untuk sang istri Nita (Mieke Amalia). Dari segi cerita, kostum prostetik yang dikenakan Indro Warkop membuat film ini terlihat eksentrik. Hal lain yang cukup melekat dari pengalaman menonton Gila Lu Ndro! adalah gaya bahasa Pak Al yang menggunakan sisipan kata-kata unik. Selebihnya, para aktor bermain sesuai porsi yang tidak dilebih-lebihkan dan menjadi diri sendiri menjadi daya tarik tersendiri film ini.

Layaknya Aamir Khan yang berkeliling mencari Tuhan pada PK (2014), Alien di Gila Lo Ndro! sesungguhnya membawa kita berkeliling Jakarta untuk melihat fenomena-fenomena absurd. Seorang makhluk planet berwarna orange dengan kepala jenong seperti ditempelin helm membuat penonton tidak pernah menyangka kalo Indro Warkop bisa tampil lebih aneh lagi. Kedamaianlah yang lebih langka di sana, di dunia kita yang sebenarnya.

Seperti review-review film lainnya, ternyata film ini memiliki tujuan yang mulia, makna yang tersirat hebat didalamnya. Kebiasaan-kebiasaan orang jaman sekarang yang diperlihatkan oleh film “Gile Lu Ndro!”benar-benar relevan. Bagaimana tentang penggambaran orang sukarela tersulut, gemar ribut. Nge gambarin juga gimana media sosial adalah jalan pintas untuk orang-orang yang punya bakat dalam mencari masalah dan kontroversi. Dan disisi lain terdapat khalayak masa kini begitu gampang disetir oleh hoax. Kemudian nih gambaran-gambaran makna tersirat tersebut, dibalut dalam sebuah sekuen yang kocak. Seperti kita akan melihat gimana berita tentang marmut berwarna pelangi berubah menjadi marmut yang bisa menembak. Sehingga kekuatan film ini bukan hanya dari akting kedua tokoh utamanya. Namun juga dilengkapi oleh sajian komedi satir yang menghiasi beberapa adegannya. Bisa dibilang film ini sukses menyampaikan kritik sosial dengan cara yang menghibur. Sipp dah mantab perfilman Indonesia!!

Film “Gile Lo Ndro!” punya potensi untuk menjadi pengingat bagi penonton melalui kritikan yang terbalut dalam film komedi , karena tentu saja negara kita tak luput dari masalah, kita punya masalah politis dan kemanusiaan. Seringkali kita mendengar berita tentang keributan, ketidakadilan, moralitas yang semakin bobrok di lapisan masyarakat Indonesia. Terlebih menjelang masa pemilihan presiden, tidak menutup kemungkinan pihak-pihak terkait akan saling menjatuhkan. Nah setting keadaan planet asal Alien dalam film ini sebenarnya adalah cerminan langsung dari realitas sosial yang terjadi disekitar kita akhir-akhir ini. So, semoga bisa menjadi pengingat ya bagi penonton setia perfilman Indonesia agar lebih bijak dalam bersikap J




No comments