Breaking News

Jafro Megawanto, Atlet Paralayang Kebanggan Indonesia


Manusia tidak pernah tau pencapaian apa yang akan diperoleh pada masa yang akan datang. Jafro Megawanto, lagi-lagi putra Indonesia namanya merebak seiring dengan pencapaiannya dalam ajang bergengsi Asian Games 2018. Mendadak terkenal atas torehan prestasi jelas membanggakan dong!!

PrestasiJafro sebagai atlet paragliding atau paralayang membuatnya banyak disanjung. Atlet paralayang ini menyumbang medali emas di nomor akurasi beregu putra atau men's team accuracy. Prestasi itu tidak didapat dengan mudah. Jafro yang merupakan anak petani harus membulatkan tekad untuk menekuni dunia olahraga terbang dengan parasut itu. Menjadi hal yang biasa bagi Jafro bekerja sebagai paraboy atau tukang lipat parasut untuk memenuhi kebutuhan operasional latihannya. Terutama untuk ongkos ojek dari lokasi mendarat ke lokasi take off saat menjalani latihan. Jafro mendapat upah Rp 5.000 dari melipat parasut. Adapun ongkos ojek menuju lokasi take off untuk latihan sebesar Rp 15.000 sekali antar.


Karir Jafro sebagai atlet paralayang memang berawal dari menjadi seorang paraboy. Pada saat kelas V di SDN Songgokerto 2 Kota Batu atau saat Jafro berusia 13 tahun, Jafro kerap bermain di lapangan landing atlet paralayang yang tidak jauh dari rumahnya di Kelurahan Songgokerto, Kota Batu. Melihat ada peluang untuk mendapatkan uang saku, Jafro mulai menjadi paraboy atau pelipat parasut atlet paralayang yang sudah landing. Berawal dari kegiatan sehari-hari Jafro itu, muncul motivasi dalam diri Jafro untuk menjadi atlet paralayang.

Jafro ingin seperti atlet yang selama ini berlatih di lapangan tersebut. Dilansir dari harian kompas Jafro menjelaskan, "Karena lihat senior pada jadi atlet. Bisa mengharumkan nama daerah, mengharumkan nama Indonesia. Jadi saya ikut termotivasi," katanya. Lalu, pada saat Jafro sudah menginjak pendidikan di SMP Muhammadiyah 8 Kota Batu, Jafro mendapat tawaran untuk menjadi atlet paralayang. Adapun yang menawarinya adalah Yosi Pasha, Manajer Komunitas Paralayang Ayokitakemon. Tawaran itu tidak disia-siakan. Jafro bergabung dalam komunitas itu, menjalani pendidikan, mulai belajar terjun, hingga akhirnya memiliki lisensi jadi atlet paralayang.



Atlet kelahiran 18 Maret 1996 yang kini berusia 22 tahun itu terus menjalani latihan. Terjun dari ketinggian dengan parasut menjadi bagian tak terpisahkan dalam hari-harinya. Pada tahun 2011, Jafro mulai menuai prestasi dengan menjadi juara 3 yunior Batu Open Paragliding. Prestasinya sebagai atlet paralayang terus menanjak. Berbagai kejuaraan, baik nasional maupun internasional ia ikuti. Pada Pekan Olahraga Nasional (PON) Jawa Barat tahun 2016, Jafro meraih medali emas.

Puncaknyasaat Jafro meraih emas di gelaran Asian Games yang saat ini masih berlangsung. Budi Sutrisno, ayah Jafro, tidak menyangka anaknya bakal menjadi atlet paralayang berprestasi. Sebab, dirinya yang merupakan keluarga petani tidak mungkin bisa mendidik anaknya menjadi atlet, apalagi atlet paralayang. Namun, ia tidak pernah melarang anaknya yang menjadi tukang lipat parasut. "Awalnya lipat parasut, cari uang untuk jajan. Kadang dicemooh, kok main terus le, bantu bapaknya sana. Tapi namanya anak kecil masih suka bermain. Saya biarkan. Pokoknya tidak sampai terjerumus ke hal yang negatif," katanya. Sutrisno melihat peluang dalam diri anaknya setelah mendapat tawaran untuk menjadi atlet paralayang. "Ada peluang harus kami kejar. Kami secara ekonomi tidak mampu, tapi ada tawaran, alhamdulillah," katanya. Kini, Sutrisno sudah menyaksikan prestasi anaknya. Medali emas Asian Games 2018 untuk Indonesia. Sutrisno sangat bangga anaknya bisa mengharumkan nama Indonesia. "Kalau ditanya bangga tidak, bangga sekali," katanya.

No comments