Jumat, 23 Februari 2018

Gion Distrik Tertua Di Kyoto Tempatnya Para Geisha


Kalau mendengar kata Geisha, pasti akan langsung teringat dengan film ‘Memoirs of Geisha.’ Sebuah film yang diangkat dari novel dengan judul yang sama karya penulis Amerika, Arthur Golden.
Geisha adalah panggilan untuk seniman wanita professional Jepang dengan berbagai keterampilan seni pertunjukan. Kalau melihat di film, memang orang awam berpikir kalau Geisha adalah wanita “penghibur.” Padahal, Geisha yang sebenarnya adalah wanita yang menjual kemampuan atau skill didalam kesenian.


Untuk menjadi seorang Geisha, tidaklah mudah. Para wanita harus mengikuti berbagai pelatihan di sebuah rumah Geisha, atau dalam bahasa Jepang disebut Okiya. Di dalam Okiya, para wanita ini akan dilatih bernyanyi, menari dan memainkan alat musik tradisional Jepang. Dalam perjalanannya, para Geisha juga memerlukan waktu yang lama agar mendapat kesempatan untuk tampil di depan umum.
Di kota asalnya Kyoto, Geisha memiliki sebutan berbeda, yaitu Geiko yang memiliki arti ‘a child of arts.’  Geiko sendiri adalah sebutan untuk Geisha yang sudah lebih senio, sementara untuk geisha yang masih menjalani pendidikan disebut Meiko. Untuk membedakan Meiko dan Geiko, biasanya terlihat dari bagian belakang kimono yang digunakannya. Bagian belakang kimono Geiko biasanya akan terurai dan hampir menyentuh tanah, sementara milik Meiko akan dilipat kedalam dan berbentuk kotak.
Bertemu Geisha di Gion
Di era modern, mungkin masih banyak pertanyaan apakah Geisha masih ada? Jawabannya adalah masih. Di Jepang sendiri, ada beberapa distrik yang ditinggali oleh para Geisha atau kampung Geisha, yang dalam bahasa Jepang disebut, hanamachi atau kagai. Namun daerah yang paling terkenal dengan Geishanya adalah Gion di Kyoto, Jepang.
Gion adalah sebuah distrik yang dibangun pada masa pertengahan yang berada di depan kuil Yasaka. Distrik ini dibangun untuk mempermudah para pelancong untuk datang ke kuil tersebut. Distrik ini merupakan salah satu distrik tertua di Kyoto yang terkenal dengan istilah “hanamachi” atau “kota bunga”, sebuah istilah yang digunakan oleh orang Kyoto pada tempat praktik seni tingkat tinggi para geisha.Distrik ini memang lebih dikenal dengan sebutan distrik geisha.
Salah satu ciri khas sebuah distrik tempat Geisha adalah dominasi bangunan kuno dengan lampu kertas bertuliskan huruf kanji di depannya. Ya, itu adalah sebuah kedai teh atau dalam bahasa Jepang disebut Ochaya. Ochaya adalah kedai teh kelas atas yang biasa menyediakan Geisha untuk menghibur para tamu yang datang untuk minum teh.
Dalam Ochaya biasanya para tamu akan dihibur dengan dua orang Geisha yang menari, menyanyi, bermain musik khas Jepang atau bahkan melakukan ketiganya. Untuk mendapatkan hiburan eksklusif seperti ini, biasanya para wisatawan atau tamu harus merogoh kocek sangat dalam. Selain didalam Ochaya, biasanya para Geisha atau di Kyoto disebut dengan Geiko sering mengadakan pertunjukan di Gion Corner untuk para wisatawan ini pun harus merogoh kocek para pelancong.
Jangan Sembarangan Foto Dengan Geisha!
Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, kalau distrik ini adalah distriknya geisha. Artinya disinilah para pelancong dapat bertemu dengan wanita cantik berbakat asal Jepang. Jika beruntung para pelancong dapat berpapasan dengan mereka di jalanan Gion yang ramai dengan pelancong.
Namun biasanya para geisha yang lewat di hanamachi akan dikawal oleh para polisi setempat. Yups! Benar sekali, layaknya seorang pekerja seni geisha juga tidak bisa dengan mudah diajak foto bersama. Karena ketika masuk kedalam hanami-koji akan terlihat berbagai papan larangan untuk para turis, seperti tidak boleh berfoto atau menyentuh geisha disana. Karena itulah mereka harus dikawal oleh polisi untuk menghindari tangan-tangan jahil orang yang tidak bertanggung jawab.
Untuk mencapai distrik Gion dapat dijangkau dengan menggunakan bus kota bernomor 100 atau 206 dengan jarak sekitar lima halte dari stasiun Kyoto.  

Senin, 19 Februari 2018

Korea Kecil di Negeri Sakura

Kalau mendengar China Town sepertinya sudah biasa di telinga semua orang, bagaimana dengan Korean Town? Nah, ini masih jarang sekali kan di dengar? Biasanya yang terdengar dari negeri ginseng hanyalah kebudayaan popnya yang sepuluh tahun belakangan mendominasi di beberapa negara di Asia dan Eropa.
 
Ternyata di negara tetangganya, Jepang, para warga Korea memiliki sebuah distrik huniannya sendiri di daerah dekat stasiun JR Shin-Okubo. Para warga Korea mulai hijrah ke negara tetangganya ini, tepat setelah perang dunia kedua. Kebanyakan dari mereka memutuskan pergi ke Jepang untuk mencari peruntungan sebagai pekerja tambang. Jumlah mereka semakin meningkat jumlahnya di negeri asal Samurai itu, setelah meletusnya Perang Korea pada 1950.



Shin-Okubo terletak tidak jauh dari pusat kehidupan malam di Shinjuku yakni Kabukicho. Hingga kini, etnis Korea tercatat sebagai orang asing terbanyak kedua yang mendiami Jepang setelah China. Keturunan Korea di Jepang dikenal dengan Korea Zainichi. Istilah Korea Zainichi mengacu kepada penduduk permanen jangka panjang di Jepang, yang tetap mempertahankan kebangsaan Joseon atau Korea Selatan.

Shin-Okubo memang bukanlah salah satu distrik yang menjadi tempat “wajib” dikunjungi oleh wisatawan, tetapi ketika memasuki kawasan ini akan terasa perbedaan dari distrik lain di Tokyo. Namun bagi para pecinta KPOP rasanya kawasan ini wajib dikunjungi ketika sedang berada di Jepang.

Berawal Dari Kisah Heroik

Kalau dilihat secara historis memang hubungan Korea dan Jepang memang tidaklah baik. Sejak penjajahan Jepang di Korea selama 35 tahun dan banyaknya perbatasan yang masih menjadi sengketa menjadikan hubungan kedua negara ini tidak baik. Namun sebuah kejadian di Shin-Okubo sempat memperbaiki hubungan kedua negara ini dan menjadikan daerah ini diresmikan menjadi Korea Town.

Sebuah kisah heroic seorang warga Korea berusia 26 tahun bernama Lee Su-Hyun yang sedang belajar bahasa Jepang di negeri sakura ketika mencoba menyelamatkan seorang warga Jepang yang jatuh diatas rel kereta ketika sedang mabuk di stasiun Shin-Okubo. Saat itu, Lee bersama warga Jepang yang lain Shiro Sekine mencoba membantu dengan melompat ke atas rel kereta yang akhirnya melindas ketiganya.

Kisah heroik Lee pada tahun 2001 mendapatkan banyak sekali perhatian dari warga Jepang yang tergugah. Kisah inilah yang akhirnya sedikit banyak memperbaiki hubungan bilateral antara Jepang dan Korea Selatan. Pada tahun 2011 dalam peringatan 10 tahun kisah heroik ini, presiden Korea Selatan bersama dengan Perdana Menteri Jepang memberikan penghormatan di Stasiun Shin-Okubo.

Tepat setahun setelah tragedi yang melibatkan warga Korea Selatan, secara resmi daerah ini diberi nama “Korea Town” atau negeri Korea dalam skala kecil.

Dominasi KPOP dan Kosmetik Disepanjang Jalan

Sejak K-Pop melakukan invasi keluar negeri tak terkecuali Jepang, Shin-Okubo semakin dipenuhi oleh pernak-pernik girlband ataupun boyband Korea.

Salah satu toko yang terkenal adalah Star Shop. Toko yang berada tepat dipinggiran Jalan ini, memang menjadi toko dengan bangunan yang cukup besar dengan hiasan bendera Korea Selatan dan bendera Jepang didepannya. Disini para pecinta Korea dapat menemukan barang-barang berbau Korea Selatan, mulai dari musik ,makanan dan kosmetik.

Selain Star Shop, toko lain yang menjadi perhatian para pelancong adalah Idol Park yang letaknya sangat dekat dengan stasiun JR Shin-Okubo. Selain menyediakan pernak-pernik idola Korea, disini juga terdapat kafe dengan nama “Idol Café Snow Camp” tepat diatas tokonya.

Selain kedua toko tersebut, di distrik ini para pelancong juga akan merasakan “hawa” negeri Ginseng yang sangat kental. Karena disetiap sudutnya terdapat berbagai macam hal mengenai Korea Selatan, seperti jajanan pinggir jalan yang menjual makanan ringan hingga sushi dengan rasa Korea.

Selain itu juga terdapat banyak bar dan tempat karaoke dengan lagu-lagu K-Pop. Salah satu tempat yang terkenal adalah bar yang terkenal adalah “Bar Blue” yang meemiliki program ‘K-Pop nights’ dengan biaya masuk 2.000 yen untuk wanita dan 3.000 yen untuk pria yang sudah termasuk dua minuman gratis.

Berbicara tentang Korea tentu tidak lengkap tidak membahas komestiknya. Di Shin-Okubo banyak toko-toko yang menjual kosmetik Korea yang bisa membuat tampilan kalian layaknya artis Korea.

Untuk mengunjungi Korea kecil ini, kalian bisa menggunakan kereta JR jalur Yamanote Line menuju stasiun Shin-Okubo yang berada sebelum stasiun Shinjuku atau sebelum stasiun Takadanobaba.

Kamis, 15 Februari 2018

Cerita 6 Artis Indonesia yang Sukses Bangun Bisnis Startup

Tren bisnis start up belakangan ini memang sangat menarik perhatian banyak pihak, termasuk para artis di Indonesia. Bahkan tak sedikit dari para pesohor negeri itu rela meninggalkan ketenaran demi mengembangkan bisnis yang lekat dengan dunia IT tersebut. Maklum, selain modal yang kecil startup bisnis juga memiliki jam kerja yang lebih sedikit dibandingkan dengan pekerjaan sebagai pemain sinetron atau film yang harus menghabiskan waktu hampir satu hari.
cerita-6-artis-indonesia-yang-sukses-bangun-bisnis-startup

Salah satu artis Indonesia yang sudah sukses membangun bisnis startup adalah Deddy Corbuzier. Mentalis dan pesulap itu mengusung tema kesehatan readyforfit.com untuk bisnisnya yang terinsporasi berkat sukses dengan diet OCDnya. Selain itu, artis cantik keturunan Belanda, Rebecca Soejati Reijman atau biasa dikenal Rebecca Reijman ini juga diketahui telah sukses membangun startup bisnis yang dinamakan beautytreats.co.id sejak 2013 silam. Dalam situs tersebut, Rebecca mencoba membagikan informasi seputar kecantikan.

Lalu, siapa lagi artis Indonesia yang sukses membangun bisnis startup-nya? Berikut ulasannya.

Christian Sugiono

Sempat mengenyam pendidikan  Teknologi Informasi dan ketertarikannya dengan internet, nampaknya menjadi salah satu alasan seorang Christian Sugiono untuk membangun startup, malesbanget.com. Situs humor ini dibuat oleh suami artis Titi Kamal itu dengan dua temannya,yang juga mengenyam pendidikan di Jerman yang ia kenal lewat dunia maya.

Berawal dari obrolan yang lucu-lucu, mereka terpikir untuk mendokumentasikan obrolan mereka dalam sebuah blog. Pada tahun 2002 mereka membeli domain dengan nama Malesbanget.com. Tahun 2006 kegiatan tersebut sempat terhenti, karena kesibukan masing-masing personel. Tepat pada tahun 2011, mereka kembali menggarap proyek MalesBanget.com dengan versi 2.0. Kini, situs tersebut sudah dikelola secara profesional dan tim yang tertata dengan rapi dengan nama PT MBDC Media.

Daniel Mananta

Selain dikenal sebagai seorang presenter, Daniel Mananta memang dikenal sebagai selebritas yang sudah sukses membangun clothing line yang diberinama, Damn, I Love Indonesia. Seolah tak puas hanya memiliki satu bidang bisnis, kini pria 36 tahun itu mulai melirik dunia startup dengan membuat website whiskoo.com.

Situs yang cukup unik ini bisa mengabulkan setiap permintaan yang diinginkan pengguna. Situs ini adalah tempat bagi para anggotanya mewujudkan hadiah spesial, bagi orang spesial, pada momen spesial, seperti ulang tahun, kelulusan, hari kasih sayang, dan lain-lain.

Zivanna Letisishia

Selain sukses menjadi seorang presenter, pemenang putrid Indonesia 2008, Zivanna Letishia juga ternyata berhasil mengembangkan bisnis di dunia kecanika dengan nama skin.co.id. Dalam situsnya itu, wanita yang dikenal sebagai sosok yang cantik, pintar dan sopan itu membagikan berbagai  artikel, tips, hingga pengetahuan baru mengenai kecantikan.

Tak sampai disitu, dalam situs yang dibangun oleh ibu satu anak itu, Anda juga dapat berkontribusi menulis artikel dan melakukan pembelian produk-produk kecantikan ternama dunia secara online.

Glenn Alienski

Jika kebanyakan artis membangun startup sesuai dengan passion dan kelebihannya, tak demikian dengan Glenn Alienski. Suami Chelsea Olivia ini justru mendapat inspirasi memulai bisnis startup setelah dirinyamengalami kesulitan menggunakan media sosial. Bersama dua orang sahabatnya, Vivegan G. dan Anthony Halim, Glenn tengah membangun media sosial bersama, dengan nama Pollask yang merupakan singkatan dari polling dan asking.

Situs ini memang sengaja dibuat unik dan berbeda dari kebanyakan media sosial lainnya. Pasalnya di dalam pollask semua orang bisa terhubung satu sama lain sesuai dengan hobi dan kecenderungan pada bidang yang sama.

Denis Adiswara

Kesuksesan film Ada Apa Dengan Cinta pertama nampaknya membuat seorang Denis Adiswara ingin tetap fokus di industri perfilman Tanah Air. Buktinya, sejak tahun 2012 pemeran Mamet dalam dua sequel Ada Apa dengan Cinta itu mendirikan sebuah bisnis di industri perfilman yang diberi nama layaria.com.

Layaria.com merupakan Multi Channel Network yang bergerak dalam bidang video online pertama. Melalui situs ini, Dennis fokus dalam pengembangan kreativitas para kreator video di Indonesia. Bahkan kini merupakan partner resmi Youtube.

Dian Sastro

Selain dikenal cantik dan berbakat, Dian Sastrowardoyo atau biasa dikenal Dian Sastro merupakan salah satu artis Indonesia yang sangat peduli terhadap pemerataan pendidikan di Indonesia. Buktinya, belum lama ini melalui Instagramnya, ibu dua anak ini memperlihatkan saat dirinya memberikan bantuan pendidikan terhadap beberapa siswa di daerah Yogyakarta. Seolah tak puas dengan hal tersebut, istri pengusaha Indraguna Soetowo ini pun membangun startup yang masih di bidang pendidikan, ruangguru.com.

Situs ruangguru.com merupakan sebuah platform bagi para siswa yang ingin mendapatkan pendidikan di luar sekolah. Situs ini juga dapat menghubungkan murid yang sedang bingung mencari guru les dengan para guru privat berkualitas yang tersebar di 33 provinsi di Indonesia. Ruangguru.com juga memudahkan murid dan guru berinteraksi.

Sabtu, 10 Februari 2018

Sensasi Menikmati Makanan Di Istana GyeongBok

Makanan Korea menjadi salah satu pilihan bagi penggemar kuliner di Indonesia. Tak banyak dari para pecinta kuliner mengetahui kalau banyak restoran Korea di Jakarta dengan sertifikat halal. SamWon House, restoran Korea halal dengan konsep kerajaan Korea.

sensasi-menikmati-makanan-diistana-gyeongBok


Restaurant Korea pertama di Indonesia yang menawarkan pengalaman kuliner yang sensasional. Samwon House melalui cita rasa yang tinggi pada makanannya dan dipadu dengan suasana klasik tradisional Korea. Interior SamWon House yang didominasi dengan kayu dan bergaya klasik membawa para pengunjung layaknya masuk ke istana GyeongBokGung.

Ornamen serba Korea seperti alat music Sanjo, kipas tradisional Korea dan juga terdapat Hanbok, pakaian traditional Korea, yang semua didatangkan langsung dari Korea. Ditambah dengan lukisan istana GyeongBokGung, istana Korea yang terbesar di Korea Selatan yang terpampang pada salah satu dinding restoran. Ini merupakan salah satu ciri khas Samwon House yang melayani para tamu secara istimewa bak tamu kerajaan Korea.

Pertama kali hadir pada 18 November 2010 yang berlokasi di Setiabudi One Building, Ground Floor, Jl. HR Rasuna Said, Kuningan Jakarta Selatan. Restoran ini akan memberikan varian menu yang beragam.

Menu BBQ Menjadi Favorit

Menu unggulan yang disajikan oleh SamWon House adalah BBQ. Terdapat 7 menu unggulan untuk BBQ, seperti Dak Bulgogi yang terdiri dari 2 rasa yaitu salty dak bulgogi dan sweet dak bulgogi, kemudian ada Seng Galbi dan LA Galbi yang terbuat dari iga sapi, Dak Galbi dengan rasa pedasnya serta gurih dan beberapa menu baru BBQ lainnya. Sementara untuk menu paket BBQ, tersedia menu Platter dengan 3 varian BBQ, yang terdiri dari Platter A (Galbi Sal, LA Galbi, Yang Nyam Galbi, Jumul-Luk), Platter B (Jumul-Luk, Chadol Baki, Yang Nyam Galbi, Wou Sul-Gui) dan Platter C (Bulgogi, Dak Galbi, Chadol-Baki, dae Chang Gui).

Selain menu BBQ terdapat menu lain yang tidak kalah favorit dipesan oleh pelanggan setianya, seperti jeonggol dengan konsep “make your own jeonggol”. Customer bisa bebas memilih isi dari menu jeonggol nya dengan banyak varian mulai dari harga Rp. 15,000/plate sampai dengan Rp. 65,000/plate. Varian baru tteokbokki juga kami berikan yaitu tteokbokki yang di kombinasikan dengan cheese dan odeng/fishcake, cheese dan gim-mari serta cheese dan sosis. Semua ini kami lakukan untuk memuaskan lidah para pecinta makanan Korea, khususnya pelanggan SamWon House.